Minggu, 18 Januari 2009

contoh karya tulis tentang borobudur, prambanan, monjali

ini cuma bahan perbandingan aja buat kamu yang bingung lagi buat karya tulis, nudah-mudahan dapat membantu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

MASIH ingat film Janur Kuning? Anda yang suka mengamati siaran TVRI era tahun 1980-1997 pasti pernah menonton film yang satu ini. Film yang dilakonkan Kaharuddin Syah, Deddy Sutomo, Rudy Salam, Cok Simbara, Anny Kusuma, dan Pong Harjatmo itu rutin diputar setiap menjelang tanggal 1 Maret.

Film tersebut mengisahkan pertempuran pejuang Indonesia melawan tentara Belanda sewaktu pendudukan Kota Yogyakarta. Karena peristiwanya berlangsung tanggal 1 Maret 1949, disebutlah pertempuran itu "Serangan Oemoem Satoe Maret".

1Puncaknya terjadi tanggal 29 Juni 1949, tatkala tentara Belanda ditarik mundur dari Kota Yogyakarta. Saat itulah Kota Yogyakarta kembali ke pangkuan Republik Indonesia (RI). Dari sisi politis, hal itu juga menunjukkan bahwa negara kesatuan RI masih eksis.

Saat Janur Kuning digarap sutradara Alam Rengga Surawijaya tahun 1979, tentu belum terbetik rencana untuk membuat sebuah monumen guna mengenang puncak perjuangan itu. Barulah pada tahun 1983, seiring makin kokohnya kekuasaan Soeharto, mulai muncul gagasan membuat Monumen Jogja Kembali (Monjali). Penggagasnya adalah Kolonel Soegiarto, Wali Kota Yogyakarta saat itu.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ini yaitu :
1. Sebagai ujian praktik mata pelajaran Bahasa Indonesia.
2. Salah satu syarat dalam mengikuti ujian sekolah dan ujian nasional.
3. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam bidang sosial dan budaya.
4. Melatih diri dalam menyusun suatu masalah kedalam bentuk tulisan.
5. Belajar mencintai dan melindungi warisan budaya bangsa.













BAB II
PEMBAHASAN MATERI

2.1 Sejarah Berdirinya Monumen Jogja Kembali
Monjali dibangun tahun 1985 dengan biaya Rp 9 milyar. Lokasinya terletak sekitar 3 km utara Tugu, di atas lahan seluas 49.920 meter persegi. Modelnya yang mirip kerucut setinggi 31,80 meter ibarat sebuah gunung kecil dalam poros Gunung Merapi-Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak-Laut Selatan.

Bagi masyarakat Yogyakarta, garis lurus dari utara ke selatan itu dimitoskan sebagai "sumbu imajiner", yakni simbol bersatunya lingga dan yoni. Faktor ini ikut memberi "roh" tersendiri bagi Monjali.

4PERPUTARAN roda sejarah kemudian menakdirkan film Janur Kuning dan Monjali bercitra kurang cemerlang di mata masyarakat. Seiring pudarnya kekuasaan Soeharto sejak tahun 1998, minat anak-anak muda untuk memandangnya sebagai potret sejarah perlahan-lahan bergeser.

Film Janur Kuning misalnya, sejak jatuhnya rezim Soeharto tahun 1998, tak ada lagi stasiun televisi yang berminat menayangkannya. Bandingkan dengan situasi tahun 1980-1997, ketika film itu seperti telah menjadi "tayangan wajib" TVRI setiap menjelang tanggal 1 Maret dan 17 Agustus.

Bersamaan dengan "tenggelamnya" Janur Kuning, angka kunjungan pelajar ke Monjali pun ikut melorot. Dalam kurun tahun 1990-1997, angka kunjungan rata-rata setiap tahunnya mendekati 600.000 orang. Sejak tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998, angka kunjungan hanya rata-rata 300.000 orang.

WALI Kota Soegiarto waktu membangun monumen itu tentu dia sendiri berada dalam konteks sejarah, di mana kekuasaan semata-mata ingin membuat "fiksi" yang paling berkesesuaian dengan kepentingan mereka.

2.2 Letak Geografis
Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta, luasnya 1.485,36 km2 (148.536 ha), atau 46,63% Secara geografis terletak antara 110o21’ – 110o50’ BT dan 7o46’ – 8o09’ LS, dan berbatasan :
· Di sebelah barat dengan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman,
· Di sebelah utara dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo
· Di sebelah timur dengan Kabupaten Wonogiri, dan
· Dengan Samudera Hindia di sebelah selatan





2.3 Objek yang terdapat dalam Monumen Jogja Kembali

2.3.1 Objek pada lantai 1
Di lantai I terdapat empat ruang museum yang menyajikan tidak kurang dari 1.000 item koleksi. Pesan koleksinya tak hanya berkutat pada Serangan Oemoem Satoe Maret. Perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Yogya menjadi ibu kota negara RI juga terangkum dalam wujud gambar maupun benda nyata. Misalnya, pakaian seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman masih tersimpan apik di sana.

Di lantai II terdapat relief dengan adegan 40 episode. Pada pagar yang mengitari monumen berukuran 1,6 x 4 x 80 meter terpampang episode perjuangan fisik dan diplomasi dari masa Proklamasi Kemerdekaan, pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), hingga Presiden Soekarno meninggalkan Kota Yogyakarta.
Dalam 10 diorama, terdapat rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo (19 Desember 1948), Serangan Oemoem Satoe Maret, hingga peringatan proklamasi tanggal 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.

Monumen itu ingin menggambarkan bahwa yang berperan selaku operator utama Serangan Oemoem Satu Maret adalah Letkol Soeharto.

Belakangan khalayak mempertanyakan siapa sesungguhnya penggagas Serangan Oemoem Satu Maret itu. Dengan lakon Soeharto yang demikian dominan, muncul kesan bahwa Soeharto jugalah yang merupakan pemrakarsanya. Peranan Sultan Hamengku Buwono (HB) IX (almarhum) seolah-olah ditenggelamkan. Padahal, bagi rakyat Yogya, Sultan HB IX saat itu merupakan sumber inspirasi dan semangat untuk tetap berjuang hingga titik darah terakhir. Keraton terbuka lebar untuk menampung pengungsi dan gerilyawan.
Adalah Brigjen (Purn) Marsudi salah satu pelaku sejarah yang mengaku melihat Soeharto menemui Sultan HB IX, sehari sebelum Serangan Oemoem dilakukan. Marsudi yang saat itu berpangkat letnan dan menjabat Komandan Sub-Wehrkreis 101 mengantar Soeharto ke nDalem Prabeyo untuk menemui Prabuningrat, kakak dari Sultan HB IX. Prabuningrat memperhadapkan Soeharto ke Sultan berbicara empat mata.

"Sebelum pertemuan itu, Sultan sudah terlebih dulu berkomunikasi dengan Pak Dirman (Panglima Besar Jenderal Soedirman-Red). Jadi, Pak Harto (Soeharto-Red) tak lebih dari komandan operasi," ujar Marsudi.
Pembicaraan antara Sultan dengan Pak Dirman serta pembicaraan Sultan dengan Pak Harto sangat minim tergambar pada relief. Malah, dalam diorama, peristiwa itu tidak tergambar sama sekali.

Tanpa mengecilkan andil Soeharto, Marsudi dan pelaku sejarah lainnya serta masyarakat lainnya berupaya meluruskan sejarah dengan membangun tetenger di Keben Keraton. Pada batu seberat 8,4 ton, terpampang prasasti bertulisan Sri Sultan Hamengku Buwono IX Mengambil Prakarsa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dan Disetujui Panglima Besar Jenderal Soedirman.















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Dari berbagai uraian diatas maka dengan ini kami menyimpulkan materi – materi yang telah kami dapat dari berbagai sumber yaitu :
1. Monjali dibangun tahun 1985 dengan biaya Rp 9 milyar. Lokasinya terletak sekitar 3 km utara Tugu, di atas lahan seluas 49.920 meter persegi. Modelnya yang mirip kerucut setinggi 31,80 meter ibarat sebuah gunung kecil dalam poros Gunung Merapi-Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak-Laut Selatan.
2.
11Bagi masyarakat Yogyakarta, garis lurus dari utara ke selatan itu dimitoskan sebagai "sumbu imajiner", yakni simbol bersatunya lingga dan yoni. Faktor ini ikut memberi "roh" tersendiri bagi Monjali.
3. Di lantai I terdapat empat ruang museum yang menyajikan tidak kurang dari 1.000 item koleksi. Pesan koleksinya tak hanya berkutat pada Serangan Oemoem Satoe Maret.
4. Di lantai II terdapat relief dengan adegan 40 episode. Pada pagar yang mengitari monumen berukuran 1,6 x 4 x 80 meter terpampang episode perjuangan fisik dan diplomasi dari masa Proklamasi Kemerdekaan, pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), hingga Presiden Soekarno meninggalkan Kota Yogyakarta.

3.2 Saran
1. Sebaiknya Museum dijaga dengan ketat dari para pengemis dan gelandangan yang memanfaatkan untuk berbagai kepentingannya.
2. Semakin ditingkatkan fasilitas dan kebersihan serta keamanan untuk menjaga suasana yang kondusif.
3. Menambah fasilitas keamanan yang canggih untuk menghindari aksi teror.
4. Menambah anggaran biaya renofasi dan kesejahteraan para pegawai di museum tersebut.











DAFTAR PUSTAKA

Budi Hartono, Drs. 2001, Pelurusan Sejarah Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Universitas Janabadra. Jogjakarta
Nasrullah Nara, 2000, Sejarah Monumen Jogja Kembali ( MONJALI ). Gramedia, Jakarta.









14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar